MENGUKIR KASIH DALAM PERBEDAAN: CATATAN SEMINAR PARENTING KKM KELOMPOK 22 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG BERSAMA Dr. Hj. Rofiqah, M.Pd., C.Ht.
Malang, Sabtu 31 Januari 2026. Mahasiswa KKM Kelompok 22 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mengikuti edukasi seminar parenting di KB-TK Masjid Agung Jami' Malang.
Di aula yang dipenuhi suasana khidmat dan antusiasme, Mahasiswa KKM Kelompok 22 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Berhasil menyelenggarakan sebuah agenda krusial yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam. Sebuah seminar parenting bertajuk "Tumbuh Bersama dalam Keberagaman: Strategi Pendampingan Anak Berkebutuhan Spesial Usia Dini" digelar sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap keterlibatan dalam pendidikan di lingkungan masyarakat.
Acara ini menjadi sangat istimewa dengan kehadiran pakar pendidikan sekaligus praktisi mumpuni, Dr. Hj. Rofiqah, M.Pd., C.Ht., sebagai narasumber utama.
Latar belakang pengambilan tema ini lahir dari kegelisahan mahasiswa Kelompok 22 melihat masih adanya stigma dan minimnya literasi mengenai Anak Berkebutuhan Spesial (ABK). Dr. Rofiqah, dengan latar belakang akademis yang kuat dan keahliannya sebagai seorang Certified Hypnotherapist (C.Ht), membawa perspektif yang sangat komprehensif-memadukan metodologi pendidikan formal dengan pendekatan psikologis yang menyentuh alam bawah sadar.
Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa pendampingan ABK pada usia emas (golden age) bukan sekadar tentang terapi fisik, melainkan tentang membangun koneksi batin. "Setiap anak adalah mahluk unik yang membawa 'pesan' dari langit. Keberagaman mereka bukanlah beban, melainkan undangan bagi kita, para orang tua dan pendidik, untuk memperluas kapasitas sabar dan cinta kita," tutur beliau di hadapan para wali murid dan kader pendidikan yang hadir.
Dr. Rofiqah membedah berbagai strategi praktis dalam mendampingi ABK. Beliau menjelaskan pentingnya deteksi dini yang tepat tanpa mengesampingkan aspek kebahagiaan anak. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika beliau membagikan teknik komunikasi bagaimana kata-kata positif yang diucapkan orang tua dapat menjadi sugesti kuat bagi pertumbuhan rasa percaya diri sang anak.
Mahasiswa KKM Kelompok 22 bertindak lebih dari sekadar panitia; mereka menjadi fasilitator yang menjembatani diskusi antara pemateri dan peserta. Dalam sesi tanya jawab, banyak orang tua yang mencurahkan tantangan keseharian mereka. Dengan ketenangan seorang ibu dan ketajaman seorang pakar, Dr. Rofiqah memberikan jawaban yang tidak hanya solutif secara teknis, tetapi juga menguatkan secara mental.
Sentuhan Hipnoterapi dalam Pola Asuh Salah satu segmen yang paling memukau dalam seminar ini adalah ketika Dr. Hj. Rofiqah mengajak para orang tua untuk melakukan relaksasi sejenak. Dengan keahliannya sebagai seorang Hypnotherapist, beliau membimbing peserta untuk menyelami alam bawah sadar mereka sendiri, melepaskan rasa lelah, rasa bersalah, atau beban mental yang sering dialami oleh orang tua dengan anak berkebutuhan spesial. Ruangan yang tadinya riuh seketika menjadi hening; beberapa orang tua tampak menyeka air mata saat menyadari bahwa sebelum mereka mampu mendampingi anak dengan hebat, mereka harus terlebih dahulu berdamai dengan diri mereka sendiri.
Beliau menekankan bahwa "suara hati" orang tua adalah frekuensi yang ditangkap oleh anak. Jika orang tua merasa malu atau terbebani, anak akan merasakannya sebagai hambatan untuk tumbuh. Namun, jika orang tua melihat anak sebagai pintu surga, maka keterbatasan itu akan berubah menjadi kekuatan.
Dinamika Diskusi: Ruang Aman untuk Bercerita Mahasiswa KKM Kelompok 22 merancang sesi diskusi agar tidak kaku. Mereka bergerak di antara kursi peserta, memberikan mikrofon kepada ibu-ibu yang suaranya bergetar saat menceritakan perjuangan mereka menyekolahkan anak ABK di lingkungan umum. Di sinilah peran Dr. Rofiqah sebagai pemateri sangat dirasakan manfaatnya. Beliau memberikan jawaban yang sangat taktis: bagaimana menghadapi stigma tetangga, bagaimana berkomunikasi dengan pihak sekolah, hingga bagaimana cara menstimulasi motorik anak dengan alat-alat sederhana di rumah.
Mahasiswa Kelompok 22 pun ikut belajar secara langsung bahwa edukasi masyarakat bukan hanya soal membagikan selebaran, tetapi tentang menciptakan "ruang aman" bagi warga untuk mencurahkan kegelisahan mereka.
Sinergi Keilmuan dan Realitas Lapangan Kehadiran sosok seperti Dr. Rofiqah memberikan validasi ilmiah atas program pengabdian yang dijalankan mahasiswa. Jika selama ini mahasiswa hanya membantu secara teknis di Madin atau TK, seminar ini memberikan landasan filosofis mengapa mereka harus sabar menghadapi berbagai karakter anak. Mereka belajar bahwa di balik setiap perilaku "istimewa" seorang anak, ada pesan komunikasi yang belum tersampaikan.
Seminar ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara orang tua, guru, dan lingkungan sosial (seperti Masjid dan Madrasah) dalam menciptakan ekosistem pendukung. Dr. Rofiqah memuji inisiatif Kelompok 22 yang berani mengangkat tema ini di lingkungan Masjid Agung Jami', karena nilai-nilai agama memang seharusnya menjadi landasan utama bagi penerimaan tanpa syarat terhadap semua mahluk Allah.
Penutup yang Menggetarkan Hati Sebagai penutup yang manis, mahasiswa Kelompok 22 memberikan sebuah simbol apresiasi kepada Dr. Rofiqah, namun kejutan sebenarnya datang dari para peserta. Beberapa perwakilan orang tua maju ke depan untuk memeluk pemateri dan mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKM. Mereka merasa "dilihat" dan "didengar" melalui seminar ini.
Bagi mahasiswa KKM 22 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, momen ini adalah puncak dari perjalanan pengabdian mereka. Mereka menyadari bahwa tugas mahasiswa bukan hanya memindahkan ilmu dari buku ke masyarakat, tapi menjadi jembatan bagi para pakar untuk menyentuh langsung akar rumput. Seminar parenting ini bukan sekadar program kerja yang dicentang dalam laporan, melainkan sebuah warisan pemikiran yang akan terus hidup di lingkungan Masjid Agung Jami' Malang, jauh setelah masa KKM mereka berakhir.





Komentar
Posting Komentar